Ini kisah di jaman modern.
Ada seorang remaja, baru saja menamatkan pendidikan
menengahnya, di sekolah terpencil jauh dari kota. Enam tahun mukim di situ, menuntut ilmu, ia merasa sudah memiliki bekal pengetahuan yang cukup, dan akan menerapkannya
di kehidupan nyata, ia ingin pergi ke kota.
Ia pamitan kepada guru, yang sudah seperti
orang tua sendiri. Guru berpesan, "kami telah banyak memberikan pelajaran di kelas, namun
belum banyak memberikan pelajaran nyata, harus kau pelajari sendiri di
kehidupan nyata. Jika engkau memerlukan kami, datanglah, sekolah kami tetap terbuka untukmu".
Pagi
sekali, masih gelap, ia berjalan meninggalkan sekolah, sendirian, ada rasa
kesepian, ragu. Ia menyetop kendaraan angkutan desa yang menuju ke stasiun kereta api, naik, sudah penuh rupanya,
tapi para penumpang dengan senang hati bergeser, menawarkan tempat duduk,
bangku duduk yang sedianya untuk 5 orang diduduki 6 orang, berdesakan, namun
semua gembira. “Ini nenek bawa pisang rebus, silahkan makan”, “ini,
adik bawa minuman teh gula jawa, silahkan minum”, sedap, kenyang.
Ini pelajaran alam nyata pertama yang diterimanya, tentang perilaku,
bahwa “keluarga” baru akan ada, yang akan menerima dan menyayangi, hidup harus tolong menolong, kebahagiaan sejati
didapat saat melihat orang lain bahagia, lebih lagi jika karena pemberian kita, ini dirasa sesuai dengan
pelajaran yang diberikan oleh gurunya.
Tiba di
stasion kereta api, sudah agak terang, lelah, ia antri membeli karcis murah, kelas ekonomi. Ia naik kereta api, penuh juga, namun
lagi-lagi ia disapa dengan ramah, diberi tempat duduk. Rasa lelah hilang,
gembira, sepanjang jalan dihibur oleh banyak group musik, bergantian, yang bermain sambil berjalan,
juga banyak yang menjajakan makanan dan barang keperluan penumpang, nikmatnya
hidup ini, makin mantap pada pelajarannya.
Ia dapat
pelajaran kedua, yang sesuai
dengan pelajaran kelas.
Dari
stasion kereta api, ia pergi ke pusat
kota. Hebat kota, di tepi jalan berderet bangunan
menjulang tinggi, bentuknya seperti gedung sarang burung walet di kampungnya,
sama-sama tidak ada jendelanya, bedanya ini terbuat dari kaca dan tinggi
sekali, gimana isi dalamnya ya? Di jalanan banyak mobil bagus lalu
lalang, tapi juga tidak ada jendelanya (tertutup), sepeda motor juga banyak, juga tidak kelihatan muka
pengemudinya
(memakai helm kaca gelap), disini tak ada tatapan sayang, tak ada sapa ramah.
Wow!, tiba-tiba ia ingin buang air kecil, dia
melihat sekeliling, tidak ada yang menatap ramah, tak ada yang dapat diminta bantuan seperti di
kampungnya, gimana ya? Setengah berlari
ia menuju ke
gedung tinggi, ingin
masuk, tapi, di depan pintu ada beberapa penjaga gagah berwajah garang, dari
tatapannya mengatakan engkau jangan kesini, urung masuk ke dalam.
Ia dapat
pelajaran alam ketiga yang tidak menggembirakan, tentang perilaku manusai kota, yang belum diajarkan di sekolah.
Ia
kembali ke stasion kereta api, antri karcis, kali ini kereta bagus. Kebanyakan calon penumpang berpenampilan rapi, cantik,
gagah, berjajar menunggu kereta datang.
Kereta datang, semua
bergerak menuju pintu kereta, semuanya, yang cantik, yang gagah, berebut masuk
berdesakan, tak peduli ada nenek, kakek, anak kecil, apalagi terhadap si remaja polos ini.
Ia dapat
pelajaran alam keempat, bahwa hidup itu mementingkan diri sendiri, jangan
peduli orang lain, kalau perlu berebut, jangan peduli pada yang lemah. Namun hati kecilnya tidak dapat menerima.
Ia bingung,
mana yang benar, mana yang harus diikuti.
Ia ingin
pulang kembali ke sekolahnya semula, rasanya pelajaran yang diterimanya belum cukup, masih banyak yang harus dipelajari, ia ingin
belajar di kelas alam yang lain, yang masih ada keramahan, kasih sayang, tolong
menolong,
bukan yang seperti dilihatnya di kota.
Namun
sayang, kelas alam ke dua diatas, kereta api kelas ekonomi, kabarnya akan dihilangkan. Akan tidak ada lagi kelas alam di kereta yang mengajarkan
keramahan, tolong menolong, berbagi keceriaan. Yang ada pengajaran tentang mementingkan diri sendiri,
berebutan, saling sikut, yang terpinggir, yang lemah, yang kekurangan, yang memang tidak indah
dilihat, yang mustinya
ditolong malah disingkirkan.
Sangat
terpuji jika rencana penghilangan tidak jadi dilaksanakan, masih diperlukan
pelajaran nyata tentang tolong menolong, keramahan, dan berbagi keceriaan,
sebagai alternatif proses perubahan perilaku positif.
Semoga
Semoga